Memantau Muara Barito (Lanjutan)

Pada bagian sebelumnya, kami sudah melaporkan kondisi bagian muara Sungai Barito secara visual menggunakan citra satelit dari tahun 2013. Pada bagian ini kami masih menyajikan informasi yang sama, akan tetapi sudah melakukan beberapa analisis lebih jauh. Khususnya analisis kuantitatif estimasi muatan suspensi. Estimasi muatan suspensi hanya kami sajikan selama 4 tahun. Yaitu 2016, 2017, 2018, dan 2019. Hal ini karena ketersediaan Citra Sentinel-2 dalam kondisi baik (tidak tertutup awan/kabut) untuk muara Barito baru bisa diakses sejak tahun 2016.

Lebih jauh, kami belum bisa melaporkan kondisi terkini muara Sungai Barito setelah tanggal 20 Februari 2019. Hal ini dikarenakan Citra-citra Sentinel-2 yang merekam setelah tanggal 20 Februari 2019, hampir seluruhnya tertutup awan tebal, tepat di bagian muara Barito. Kami masih menunggu pemotretan Satelit Sentinel-2 di atas muara Barito pada Hari Jum’at, 22 Maret 2019 (sekitar jam 10:30 WITA) mendatang. Semoga pada hari itu, langit di atas muara Sungai Barito bersih dari awan/kabut.

Citra Sentinel-2 muara Sungai Barito selama 4 tahun terakhir
Estimasi Muatan Suspensi Muara Sungai Barito tanggal 11 April 2016

Estimasi Muatan Suspensi Muara Sungai Barito tanggal 16 April 2017

Estimasi Muatan Suspensi Muara Sungai Barito tanggal 6 Mei 2018

Estimasi Muatan Suspensi Muara Sungai Barito tanggal 20 Februari 2019

Secara visual dan kuantitatif, sudah jelas terlihat bahwa kondisi muara Sungai Barito tahun 2019 ini adalah yang terparah selama 4 tahun terakhir. Di beberapa titik terdapat akumulasi lumpur yang cukup parah. Bahkan di bagian pinggir sungai tepat di muara sungai, juga terdapat akumulasi lumpur yang cukup parah, sebagaimana ditunjukkan pada gambar layout citra di bawah. Demikian juga halnya dengan akumulasi lumpur yang terdapat pada garis pantai ke arah Timur dari muara Barito.

Citra Sentinel-2B muara Sungai Barito tanggal 20 Februari 2019

Anda dapat mendownload layout Citra Sentinel-2B tanggal 20 Februari 2019 di atas dalam format PDF, untuk kepentingan analisis lebih jauh secara visual.

Silahkan download di sini untuk layout citra komposit warna sejati (432). Dan download di sini untuk layout citra komposit warna palsu (1184). Ukuran kertas aslinya adalah kertas A0.


Kenampakan 3D dan profil 3D muatan suspensi muara Barito tanggal 20 Februari 2019

Hasil Estimasi Muatan Suspensi Tahun 2016 Terlihat Aneh?

Khusus untuk tahun 2016, kami sempat curiga terjadi kesalahan analisis estimasi muatan suspensi. Mungkin salah perhitungan, atau karena ada masalah pada citra yang harus dikoreksi terlebih dahulu sebelum proses estimasi muatan suspensi. Dugaan kami muncul dikarenakan hasil estimasi muatan suspensinya yang kontras dengan kenampakan visual citra komposit warna sejati. Perhatikan gambar di bawah:

Kenampakan muatan suspensi muara Sungai Barito dari Citra Sentinel-2A tanggal 11 April 2016 komposit warna sejati

Secara visual (pada gambar di atas), seolah-olah di bagian tengah terdapat lumpur yang berwarna lebih gelap (coklat), yang dapat dijustifikasi sebagai lumpur yang lebih pekat. Akan tetapi, setelah dianalisis muatan suspensinya, justru muatan suspensinya sangat rendah (di bawah 25 mg/liter). Perhatikan gambar di bawah:

Kami mencurigai bahwa kesalahan analisis ini dikarenakan adanya fenomena sunglint (efek kilatan cahaya matahari akibat gelombang air) yang sangat intens. Memang dari seluruh Citra Sentinel-2 yang kami gunakan, secara visual terlihat bahwa gelombang air laut terbesar terdapat pada citra tanggal 11 April 2016.

Sehingga pada akhirnya, kami pun harus melakukan SunGlint Correction atau DeGlinting (Hedley et. al., 2005), yaitu penghilangan efek kilatan cahaya matahari akibat gelombang air pada citra multispektral. Perhatikan hasil koreksinya pada gambar di bawah:


Kenampakan muatan suspensi muara Sungai Barito dari Citra Sentinel-2A tanggal 11 April 2016 komposir warna sejati, setelah dikoreksi sunglint (“gelombang lautnya dibuang”)

Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Bagian tengah muara Barito yang seolah terdapat lumpur berwarna lebih gelap (coklat), ternyata justru airnya lebih jernih. Memang tidak sepenuhnya jernih (masih ada lumpurnya), tetapi tidak separah lumpur air yang berada di sekitarnya yang berwarna lebih cerah. Warna gelap itu dapat berasal dari dasar sungai yang sangat dangkal. Atau suspensi yang mulai mengendap ke dasar sungai/laut, sehingga nilai spektralnya tidak sepenuhnya tertangkap oleh sensor satelit. Sehingga kesimpulannya, hasil estimasi kami pada muatan suspensi muara Barito tanggal 11 April 2016, sudah benar sesuai prosedur menurut metode yang kami adopsi. Terlepas dari akurasi metode ini yang masih harus diuji di lapangan.

Referensi

  • Hedley, J. D., Harborne, A. R., and Mumby, P. J.. 2005. Technical note: Simple and robust removal of sun glint for mapping shallow-water benthos. International Journal of Remote Sensing, Vol. 26, No. 10, 20 May 2005, pp. 2107 – 2112.
  • Liu, H., Li, Q., Shi, T., Hu, S., Wu, G., and Zhou, Q.. 2017. Application of Sentinel 2 MSI Images to Retrieve Suspended Particulate Matter Consentration in Poyang Lake. Remote Sensing, 2017, Vol. 9, No. 761, pp. 1 – 19.
  • Xu, H.. 2006. Modification of Normalized Difference Water Index (NDWI) to Enhance Open Water Features in Remotely Sensed Imagery. International Journal of Remote Sensing, 27 (14), pp. 3025–3033.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *